Pages

Monday, October 11, 2010

Kementrian perindustrian pantau potensi Gunungkidul



20101012131128_GUNUNGKIDUL_KARST.jpg
GUNUNGUKIDUL: Tiga staff ahli dari Kementerian Perindustrian mengunjungi Gunungkidul untuk memantau potensi sumber daya alam (SDA) lokal yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Selasa (12/10) pagi tadi.

Salah seorang staf ahli, Kholil, mengatakan kunjungannya ke Gunungkidul tersebut merupakan kunjungan lanjutan dari kunjungan pertama yang dilakukan pada Agustus lalu. Pada kunjungan keduanya ini, kementerian perindustrian lebih memfokuskan pada peninjauan lokasi yang berpotensi dijadikan sentra industri.

"Dari penilaian kami [kementerian], Gunungkidul memiliki potensi industri batu. Lewat industri itu nantinya kami akan membuat program sentra industri batu untuk mengangkat kesejahteraan rakyat," ungkapnya seusai bertatap muka dengan Bupati Gunungkidul, Sumpeno.

Untuk menindaklanjuti pembahasan antara kementerian dan pemkab, Kholil mengungkapkan di akhir bulan ini kementerian akan mengundang pemkab untuk memaparkan rencana program industri batu dihadapan menteri perindustrian.(Harian Jogja/Galih Eko Kurniawan)
FOTO KAWASAN KARST GUNUNGKIDUL/ILUSTRASI


sumber : www.harianjogja.com
Read more »

Pemkab Bentuk Satgas Anti Traficking



Ilustrasi (Foto : Dok)
WONOSARI (KRjogja.com) - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul akan membentuk satuan tugas (satgas) pencegahan perdagangan orang (traficking) di ruang rapat IV, Selasa (12/10) sejalan dnegan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

"Terjadinya perdagangan orang karena kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan kesempatan kerja hingga lemahnya sistem administrasi yang berkedok peluang kerja," kata Kabid Pemberdayaan Perempuan Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana Gunungkidul  Elvita Dewi Wahid.

Karena itu, kata Elvita sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007, pemkab membentuk gugus tugas dan sub gugus tugas mulai tingkat kabupaten hingga kecamatan. Melalui satgas ini mampu mencegah terjadinya trafficking serta meningkatkan kapasitas gugus tugas dalam mengembangkan dan mengelola program penghapusan perdagangan perempuan dan anak.

Kabid Pendidikan Luas Sekolah Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olagraha Gunungkidul Suharto menjelaskan pencegahan tindak pidana perdagangan orang harus dilakukan sedinimungkin dengan perluasan, pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, kualitas dan relevansi pendidikan. Selain itu, penyelenggaraan, kualitas dan kuantitas serta pengembangan kualitas tenaga pendidikan.

"Kebijakan yang diambil meliputi memperluas kesempatan pendidikan bagi semua anggota masyarakat, mempermudah system pendidikan, memberdayakan tenaga pendidik, pemantapan pengelola manajemen sekolah," tandasnya. (R-2)


Sumber : www.krjogja.com
Read more »

Polisi Ciduk 5 Pemeras Pengusaha



Dadang Iskandar (kanan) saat memberi keterangan di mapolres gunungkidul (Foto:Deddy EW)
WONOSARI (KRjogja.com) - Petugas Polres Gunungkidul mengamankan dua oknum wartawan dan tiga orang aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang melakukan aksi pemerasan terhadap pengusaha pertambangan batu kars PT Sugih Alam, Senin (11/10) malam.

Kapolres Gunungkidul AKBP Asep Nalaludin didampingi Kasat Reskrim Polres Gunungkidul AKP Widi Saputro  Selasa (12/10) menegaskan penangkapan sesuai laporan korban dan menggerebeknya di suatu rental mobil atau saat penyerahan uang,

Dari lima oknum, satu diantaranya  Bw (40) ditetapkan sebagai tersangka. Empat orang lainnya adalah Dad dan Ras (Koordinator LSM), Adb dan Gab  (oknum wartawan) masih dalam pemeriksaan intensif kepolisian.

"Kelimanya masih dan satu diantaranya adalah Bw  dalam status tersangka. Tersangka Bw ini adalah orang yang menerima uang dari korban sebesar Rp 3 juta dari total yang diminta Rp 5 juta," ujarnya.

Menurut keterangan saksi, Dadang Iskandar peristiwa bermula dari investigasi LSM dan oknum wartawan untuk mengecek eksplorasi batu kars. Sedangkan, izin eksploitasi pertambangan sudah habis kontraknya sejak tahun 2009 namun tetap beraktivitas dan tergolong ilegal.

"Saya tidak minta uang, justru  dari pelapor menawar dari Rp 1 juta sampai Rp 2 juta. Saya tidak menanggapi dan saat kejadian mereka datang di rumah Bw dengan membawa uang Rp 3 juta. Kami dibawa ke Polres karena bersama dua teman wartawan berada di lokasi," kilahnya. (R-2)


Sumber : www.krjogja.com
Read more »

Rumah Hancur di Gedangsari, Kerugian Rp 25 Juta



Warga bergotong-royong membangun rumah. (Foto : Dedy EW)
WONOSARI (KRjogja.com) - Masyarakat di Dusun Guyangan Lor, Mertelu, Gedangsari, Senin (11/10) bergotong-royong membangun rumah milik Sukijo (65) penduduk setempat yang hancur disapu angin puting beliung pada, Minggu (10/10) petang. Akibat angina puting beliung tiga rumah hancur serta dua kambing mati, kerugian mencapai kurang lebih Rp 25 juta.
“Saya berharap pemerintah kabupaten memberikan bantuan. Terutama bahan bangunan dan uang untuk kembali membangun rumah agar kembali utuh. Karena hanya tinggal kayu yang sudah rusak serta genteng hancur. Sementara saat ini tinggal di tenda yang dibangun oleh Tagana,” kata Sukijo.
Kepala Dusun Guyangan, Wijiyono menambahkan, di Dusun Guyangan dihuni sebanyak 120 KK. Dimana mereka menempati lokasi diperbukitan dan rawan terjadi bencana. Oleh karena itu, bila hujan turun, warga juga sudah diimbau untuk siaga agar siap bilamana musibah terjadi sewaktu-waktu.
Kepala Kesbangpolinmasbena Gunungkidul YD Nugroho BcHK di dampingi stafnya Wardi di lokasi bencana menyatakan, pemkab juga sudah memberikan bantuan berupa beras serta makanan. Mengingat kondisi korban serta kerugian maka akan diupayakan untuk memperoleh bantuan baik bahan bangunan maupun uang. “Memasuki musim penghujan ini masyarakat terutama warga yang bermukim di perbukitan, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya. (R-2)

Sumber : www.krjogja.com
Read more »

Gempa 3,9 SR kejutkan warga GK



20101011132559_GEMPA.JPG
GUNUNGKIDUL: Gempa berkekuatan 3,9 SR (Skala Richter) yang terjadi pada Senin (11/10) dinihari sempat mengejutkan warga Gunungkidul. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di 17 kilometer barat daya Kota Wonosari tepatnya di 8,09 Lintang Selatan-11,05 Bujur Timur pada pukul 03.05 WIB.

Seorang warga Panggang yang sempat ditemui Harian Jogja, Jajat, mengaku guncangan gempa hanya mengejutkan karena warga tidak mengalami kepanikan. "Hanya terkejut karena terjadinya cuma satu-dua detik," ungkap warga Desa Girisekar, Panggang, tersebut.

Dihubungi terpisah, Kepala BMKG Stasiun Geofisika DIY, Budi Waluyo, mengatakan gempa yang terjadi dinihari tadi termasuk gempa dangkal dan terjadi di darat. Karena itu, meski kekuatan gempa tergolong lemah, warga masih dapat merasakan.

Menurut dia, sebelum gempa terjadi pada Senin dinihari, BMKG sempat mencatat gempa berkekuatan 1,9 SR terjadi di 7,95 LS-110,45 BT tepatnya di 11,6 kilometer tenggara Bantul.

"Meski kedalamannya 10 kilometer, warga tidak dapat merasakan gempa itu karena kekuatannya lemah sekali," ungkap Budi.

Sementara, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan Masyarakat dan Penanggulangan Bencana (BKBP2MPB), YD Nugroho, mengatakan sampai saat ini tidak ada laporan kerusakan akibat gempa.

"Pantauan yang kami [BKBP2MPB] lakukan sampai siang hari ini tercatat tidak ada kerusakan. Warga hanya mengaku terkejut namun tidak sampai panik karena gempa berlangsung cepat," ungkapnya. (Harian Jogja/Galih Eko Kurniawan) 

sumber : www.harianjogja.com
Read more »

Sunday, October 10, 2010

10 Desa Budaya di Gunungkidul

Desa budaya di wilayah Gunungkidul terus dikembangkan sebagai destinasi kunjungan wisata. Dari total 32 desa budaya di DIY, 10 desa budaya berlokasi di Gunungkidul. Tiap desa budaya mempunyai keunggulan pelestarian seni budaya tradisional.
Menurut Kepala Seksi Pelestarian dan pengembangan Nilai-nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul Restu Raharja, sebagian besar desa budaya itu belum dikenal masyarakat karena minim promosi. "Kami terus mencoba meningkatkan kemampuan sumber daya manusia pelaku adat," kata Restu, Rabu (6/10).
Sepuluh desa budaya di Gunungkidul itu ialah Desa Putat, Girisekar, Kemadang, Kepek, Semanu, Katongan, Semin, Bejiharjo, Jerukwudel, dan Giring. Desa Putat di Kecamatan Patuk, misalnya, menjadi sastra kerajinan pembuatan topeng kayu dan menyimpan kekayaan budaya tari topeng.
Saat ini terdapat lebih dari 200 perajin topeng kayu di Dusun Bobung, Desa Putat. Mayoritas parajin topeng kayu di sana telah merambah ekspor meskipun masih melalui pedagang perantara di kota besar, seperti Jakarta.
"Omzet kami bisa lebih dari Rp 100 juta per bulan," kata Sujiman, perajin topeng kayu di Dusun Bobung.
Wisatawan dari luar negeri, seperti Malaysia, China, dan beberapa negara Eropa, mulai berdatanganan menyaksikan proses pembuatan topeng kayu di Bobung. Meskipun masih sederhana, warga mulai menyediakan kamar sebagai tempat peristirahatan bagi wisatawan yang ingin menginap.
Adapun desa budaya lain cenderung belum dikenal wisatawan asing maupun lokal. Mereka lebih mengenal potensi desa wisata di Sleman atau Bantul.
"Jangankan wisatawan umum, banyak dari pejabat Gunungkidul yang justru belum mengetahui tentang desa budaya ini," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Gunungkidul Sudodo.
Menurut Restu, desa budaya di Gunungkidul mulai dikembangkan sejak 1995. Untuk mendongkrak minat warga berkunjung ke desa budaya, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berencana menggelar festival desa budaya.
Beberapa upaya pemerintah untuk mendongkrak minat berkesenian masyarakat adalah memberikan bantuan peralatan seni, seperti gamelan dan pakaian pementasan ketoprak. "Saat ini memang masih dalam tahap rintisan agar bisa dikenal masyarakat," ujar Restu. (WKM)_Kompas
 
 
Sumber : www.gunungkidulkab.go.id 
Read more »

Cuaca Buruk, Nelayan Gunungkidul Batal Melaut



Ilustrasi. (Foto : Dok)
GUNUNGKIDUL (KRjogja.com) - Puluhan kapal nelayan Pantai Wedi Ombo dan Pantai Sadeng, Kabupaten Gunungkidul batal melaut karena ketinggian gelombang mencapai tiga meter lebih. Gelombang laut sempat menyebabkan satu kapal dari nelayan pantai Sadeng mengalami kerusakan dan kembali menepi tanpa membawa hasil tangkapan.
"Nelayan pantai Wedi Ombo yang memiliki sebanyak delapan kapal tidak berani melaut karena ketinggian gelombang laut mencapai tiga meter lebih," kata Koordinator SAR Pantai Sadeng, Subowo, Sabtu (9/10).
Sementara itu, Petugas TPI Pantai Sadeng, Paito, mengatakan nelayan yang berangkat melaut ada sebanyak 10 kapal, dua kapal di antaranya terpaksa kembali ke pantai karena mengalami kerusakan diterjang ombak. "Dua kapal tidak jadi melaut dan kembali mendarat karena ada kerusakan yang disebabkan tingginya gelombang serta kencangnya tiupan angin," katanya.
Dia mengatakan nelayan yang telah berangkat satu pekan yang lalu dan mendarat pada hari ini baru ada empat kapal namun yang membawa hasil hanya satu kapal. "Nelayan mengeluhkan arus laut yang tidak menentu sehingga bepengaruh pada jumlah tangkapan ikan, bahkan tadi ada empat kapal yang menepi namun yang membawa ikan hanya satu kapal," terangnya.
Dia mengatakan dengan adanya kapal yang tidak jadi melaut mengakibatkan persediaan ikan di TPI Sadeng menipis. "Stok ikan di TPI Sadeng saat ini hanya tersisa satu ton dan diperkirakan hanya cukup untuk dua hari kedepan padahal sebagian nelayan yang melaut baru akan datang tujuh hari mendatang,"katanya.
Menurut dia tangkapan nelayan sejak bulan Ramadhan selalu mengalami penurunan karena adanya perubahan cuaca yang berdampak pada musim angin timur tidak segera berakhir. "Satu kapal paling banyak hanya membawa hasil tangkapan paling banyak 2,5 kwintal padahal sebelumnya bisa mencapai lima kwintal sampai satu ton," lanjutnya. (Ant/Van)

Sumber : www.krjogja.com
Read more »

Share